Islam Mosque 4 Ibnu Abdil Ghany Al - Bughury: Syi'ah adalah Agama (di luar Agama Islam)

Senin, 12 Desember 2011

Syi'ah adalah Agama (di luar Agama Islam)

Oleh: Ustad Abdul Hakim Amir Abdat


Ketahuilah bahwa Syi'ah adalah agama di luar Islam.
Perbedaan di antara kita kaum muslimin dengan syi'ah sebagaimana berbedanya dua agama dari awal sampai akhir yang tidak mungkin disatukan kecuali satunya menginggalkan agamanya!!

Agar supaya para pembaca mengetahui atas dasar bashirah (yakni hujjah yang kuat dan terang secara naqliyyun dan aqliyyun bahwa syi'ah adalah dien / agama), maka di bawah ini saya jelaskan sebagian dari aqidah syi'ah yang tidak seorang musli meyakini salah satunya melainkan dia telah keluar dari Islam.

Pertama: Mereka (syi'ah) mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui bagian tertentu (juz-iyyaat) sebelum terjadinya sesuatu. Dan mereka sifatkan Allah 'Azza wa Jalla dengan al bada'. Yaitu Allah Jalla wa 'Alaa baru mengetahui setelah terjadi sesuatu!?

Maha Suci Allah ! Alangkah besarnya kezaliman dan kekufuran syi'a! Aqidah syi'ah di atas sangat bertentangan dengan seluruh isi Al-Qur'an dari awal sampai akhir diantara Firman Allah azza wa jalla:
 "Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi" (Thaha:7)


Kedua: Tahriful Qur'an (perubahan Al-Quran) yakni mereka meng'itiqadkan telah terjadi perubahan besar-besaran  di dalam Al-Quran. Ayat-ayat dan surat-suratnya telah dikurangi atau ditambah oleh para Shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dibawah pimpinan tiga Khalifah yang mulia yang merampas hak ahlu bait yaitu, Abu Bakar, Umar, dan Utsman!?

Mereka (Syi'ah) mengatakan bahwa Quran yang ada di tangan kaum muslimin dari zaman shahabat sampai hari ini tidak asli lagi !!!... Kecuali Qur'an mereka yang tiga kali lebih besar dari Kitabullah (Al-Qur'an), yang mereka namakan Mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam Mahdi Khurafat mereka dan khayalan mereka yang tidak pernah ada wujudnya !! itulah Aqidah Syi'ah mengenai Al-Quran.

Allah azza wa jalla telah berfirman:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami-lah yang benar-benar menjaganya." (Al-Hijr: 9) = Ayat ini adalah salah satu Kaidah Besar yang kita sebagai Muslim Wajib Meyakininya tanpa ragu, karena Allah sendirilah yang menjaga Al-Qur'an jadi tidak ada perubahan dalam Al-Qur'an sejak dikitabkan sampai sekarang melainkan itulah Fitnah yang disebarkan oleh Syi'ah (keterangan ini adalah tambahan dari almanhajsalaf) =

Allah azza wa jalla telah berfirman:
"(Al Quran) yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan (Allah) yang Maha Bijaksana (lagi) Maha Terpuji." (Fushshilat:42)

Alangkah besarnya Dusta dan penghinaan mereka (syi'ah) terhadap Al Quran. Allah Subhanaahu wa Ta'ala telah menegaskan bahwa Al Quran di dalam pemeliharaan-Nya dan tidak akan kemasukan satupun yang batil dari segala jurusan. Akan tetapi mereka (syi'ah) mengatakan Al Quran telah dirubah oleh tangan manusia, yaitu para Shahabat !!!

Ketiga: Satu diantara Aqidah Syi'ah yang terpenting dan menjadi asas bagi mereka adalah mengadakan penyembahan terhadap manusia. Mereka bersikap Ghuluw (berlebihan) terhadap Imam-imam mereka sehingga mereka tinggikan (imam mereka syi'ah) sampai kepada derajat Uluhiyyah (ketuhanan). Kalau tidak khawatir berkepanjangan, tentu akan saya bawakan semuanya atau sebagain dari perkataan kufur mereka dalam masalah ini. Akan tetapi, cukup satu saja yang dapat mewakili mereka (syi'ah) semuanya.

Sekarang Lihatlah !! Apa yang dikatakan Khumaini pemimpin besar Syi'ah pada zaman ini, di kitabnya Al-Hukumatul Islamiyyah (hal.52)

Perkataan Khumaini (Pemimpin Besar Agama Syi'ah) berkata:
"Sesungguhnya yang pasti dari madzhab kami, bahwa sesungguhnya Imam-imam kami itu mempunyai kedudukan (maqam) yang tidak bisa dicapai oleh satupun Malaikat yang muqarrab (dekat) dan tidak oleh seorang pun Nabi yang pernah diutus."

Maksudnya: Imam-imam mereka (syi'ah) itu lebih tinggi dari para Malaikat dan para Nabi semuanya.

Keempat: Diantara I'tiqad Syi'ah yang terpenting dan menjadi salah satu asas agama mereka adalah RAJ'AH. yaitu:
 "Hidup Kembali di dunia ini sesudah mati atau kebangkitan orang-orang yang telah mati di dunia (Reinkarnasi - sejenis dengan kepercayaan Buddha / Hindu).


Terjadinya, Ketika Imam Mahdi mereka (Imam ke-12)- Mahdi khayalan dan khurafat (Maksudnya: Imam Mahdi karangan Syi'ah bukan Imam Mahdi yang pernah disebutkan dalam hadits Rasulullah yang shahih)- bangkit dan bangun dari tidurnya yang demikian lama lebih dari seribu tahun karena selama ini ia telah bersembunyi di dalam goa. Maka, hidupkanlah kembali seluruh imam-imam mereka dari yang pertama sampai yang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan putri beliau Fatimah. Kemudian dihidupkan kembali musuh-musuh Syi'ah yang terdepan adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman dan Seluruh para Shahabat dan seterunya. Mereka semua akan diadili, kemudian disiksa di hadapan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam karena telah menzhalimi ahlul bait. merampas hak imamah dan seterusnya.

Aqidah Raj'ah ini terang-terangan telah mendustakan isi Al-Quran,

diantaranya firman Allah Subhanaahu wa Ta'ala:
"Dan di hadapan mereka (orang yang telah mati) ada Barzah sampai hari mereka dibangkitkan (yakni pada hari kiamat)." (Al-Mu'minun: 100)

Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa orang yang telah mati akan dihidupkan di alam Barzah atau alam kubur dan tidak akan hidup lagi di dunia sampai mereka dibangkitkan nanti pada yaumil Qiyamah.


Kelima: Satu lagi di antara aqidah syi'ah yang sangat penting dan menjadi asa tertinggi ialah Pengkafiran mereka (syi'ah) kepada seluruh shahabat kecuali beberapa orang saja seperti Ali, Fatimah, Hasan, Husain... Dan yang sedikit ini pun mereka tikam dan sembelih dengan kebohongan-kebohongan besar yang sukar dicari tandingannya kecuali Iblis. yang pada Hakikatnya mereka pun telah mengkafirkan Ali dan ahli bait dengan cara yang berbeda ketika mereka mengkafirkan seluruh shahabat.

Siapakah yang lebih mereka kafirkan, Shahabatkah yang mereka tuduh telah menzhalimi ahlul bait ataukah Ali yang menurut mereka telah mengatakan bahwa dirinya-lah yang menghidupkan dan mematikan ?

Sekali lagi, Siapakah yang lebih mereka kafirkan, Shahabatkah atau ahlul bait, yang kata Khumaini bahwa derajat mereka (Imam-Imam Syi'ah) tidak bisa ditandingi oleh para malaikat dan para Nabi ??

Jawablah wahai Kaum !!


"Maka terdiamlah (tidak bisa menjawab) orang yang kafir itu." (Al-Baqarah: 258)





KETAHUI-LAH!!

Inilah kaidah kaum zindiq, yaitu: Merendahkan sebagaian, kemudian meninggikan sebagaian yang lain dalam waktu yang bersamaan."

Mereka (syi'ah) telah merendahkan para shahabat dengan caci-maki dan laknat dalam melawan firman Allah yang banyak memuji para shahabat, diantaranya keridhaan Allah kepada mereka "Radhiyallahu anhum"

Kemudian dalam waktu yang bersamaan mereka mengkafirkan juga Ali dan ahlul bait dengan cara meninggikan mereka sampai ke derajat Ketuhanan.

Itulah cara-cara kaum zindiq !!!



Inilah Manhaj [1] Syi'ah:

Yaa Subhaanallah ! Ahlus Sunnah yang berjalan di atas manhaj Shahabat dengan seluruh ketegasan mengatakan: "Tidak mungkin / Mustahil diadakan pendekatan Ilmiyyah dan amaliyyah di antara Ahlus Sunnah dengan Kaum ini (Syi'ah Raafidhah) yang ajarannya telah dibuat oleh kaum zindiq munafiq yang merupakan kelanjutan dari agama majusi (penyembah api) yang sangat memusuhi Islam dan kaum muslimin. Padahal mereka telah mengkafirkan para Shahabat Radhiyallahu anhum. Sehingga tidak ada yang tersisa dari para Shahabat yang mulia radhiyallahu anhum kecuali beberapa orang yang dapat dihitung dengan jari. Mustahil dapat diadakan satu pendekatan (taqrib) di antara dua agama yang berbeda. Yaitu di antara Diinul Islam (Agama Islam) dan Diinusy Syi'ah (Agama Syi'ah) =Raafidhah= Syi'ah dua belas imam= Syi'ah Ja'fariyyah !!! Ketika mereka (syi'ah) mengatakan yang diwakili oleh salah seorang pembesar ulama mereka yang pada hakikatnya adalah seorang zindiq munafiq si majusi, yaitu Ni'matullah Al Jazaa-iriy di kitabnya Al Anwaarun Nu'maaniyyah (Juz 1 hal.278-279):


Sesungguhnya kami tidak sepakat bersama mereka [2] atas Tuhan yang satu (yakni Tuhan yang sama), dan tidak juga atas imam (yang sama). Yang demikian itu disebabkan bahwa mereka [3] telah mengatakan: "Sesungguhnya Rabb mereka yang Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sebgai Nabi-Nya, sedangkan Khalifah yang sesudahnya adalah Abu Bakar." Padahal kami [4] tidak mengatakan (meyakini) dengan Rabb ini dan tidak dengan Nabi itu (yakni kami tidak bertuhan dengan Tuhan itu dan kami pun tidak meyakini Nabi itu) [5]. Sesungguhnya Rabb yang menjadi khalifah Nabi-Nya adalah Abu Bakar, bukan Rabb kami dan Nabi itu bukan Nabi kami [6]."

Perkataan ini adalah sebuah I'tiqad (keyakinan) raafidhah pada hakikatnya adalah sebuah pengingkaran secara besar-besaran terhadap Rabbul 'alamin dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam.

Apakah sesudah kalimat kuffur ini kamu taqrib (pendekatan diantara Ahlus Sunnah dengan raafidhah) seperti saudara Quraisy Syihab masih belum sadar uga dan tidak mau ruju' kepada kalimat yang Haq ?

Bukankah kalimat di atas menunjukan kepada kita bahwa sejelas-jelasnya bahwa Sunnah dengan Syi'ah / Raafidhah adalah dua agama yang berbeda dengan dasar keterangan dan keyakinan serta persaksian besar dari mereka sendiri, bahwa Rabb mereka dan Nabi mereka bukanlah Rabb dan Nabi yang diimani dan diyakini oleh Ahlus Sunnah yang khalifah sesudahnya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq??

Saya katakan dengan terang dan tegas, bahwa sesungguhnya saudara Quraisy Syihab telah terlambat hampir satu abad lamanya dalam masalah taqrib ini. Karena jauh sekali sebelum ia lahir ke dunia yang fana ini -- apalagi menulis kitab taqrib-nya itu -- telah tampil sejumlah orang -- terutama dari syi'ah -- untuk mengadakan taqrib atau pendekatan antara Ahlus Sunnah dan syi'ah.

Contohnya:
Jamaluddin yang menyandarkan dirinya secara dusta kepada Afghanistan sehingga dikenal dengan nama Jamaluddin Al Afghaaniy. Padahal orang ini dari Iran dan seorang raafidhiy (raafidhah/syi'ah) yang mencoba menipu Ahlus Sunnah dengan istilah taqrib-nya. Maka kemudian terbongkarlah dan jelas sekali siapa sebenarnya Jamaluddin itu yang patut dinamakan dengan nama Jamaluddin ar raafidhiy al Iraaniy (orang Iran). Dia termasuk dari orang-orang pertama yang mengadakan masalah taqrib ini dari kaum raafidhah atau syi'ah.

Kemudian perhatikanlah baik-baik apa yang telah mereka (syi'ah) katakan kepada para Shahabat yang merupakan asas di dalam ajaran mereka. Bahwa mereka kaum raafidhah (syi'ah), yang dahulu dan yang sekarang dan orang-orang yang berjalan di manhaj syi'ah, telah melemparkan berbagai macam tuduhan yang sangat keji terhadap para shahabat radhiyallahu anhum sebagai generasi terbaik sesudah generasi pada Nabi dan Rasul. Yang pada puncaknya mereka telah mengkafirkan para shahabat semuanya kecuali beberapa orang Shahabat yang dapat dihitung dngan jari, yaitu dari tiga orang sampai tujuh orang saja. Selebihnya telah murtad dan kafir !! Begitulah keyakinan syi'ah tentang Shahabat yang mulia yang semuanya ini termaktub di kitab-kitab besar mereka seperti Al Kaafiy oleh ulama mereka Al Kulainiy, Bihaarul Anwaar oleh Al Majlisiy, Kitab Salim Bin Qais, Al ikhtishaash oleh Al Mufid, Rijaalul Kasyi oleh Al Kasyi. dan lain-lain banyak sekali.[7]

Hal ini tidaklah aneh karena raafidhah adalah agama buatan si Yahudi Hitam Abdullah bin Saba'.seorang zindiq munafiq yang menyembunyikan keyahudian-nya di belakang Nama Islam. Tujuan dari maksud-maksud jahat si Yahudi Hitam ini bersama anak cucunya dari para pengikutnya yang dahulu dan yang sekarang bahkan yang ada di Indonesia sampai hari ini, tidak lain melainkan demi membatalkan dan menghancurkan Agama Islam dan kaum muslimin.

Karena Kalau para Shahabat radhiyallahu anhum telah dikafirkan maka dengan sendirinya batal-lah apa yang para Shahabat bawa dan sampaikan (da'wahnya) yaitu Al-Quran dan Sunnah. Kalau Al Quran dan Sunnah yang menjadi dasar hukum Islam telah dibatalkan, maka dengan sendirinya Islam pun menjadi batal. Dengan demikian kaum Syi'ah raafidhah dapat beristirahat dengan tenang dari Islam dan kaum Muslimin



[disalin dari kitab Lau Kana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi oleh Ustad Abdul Hakim Amir Abdat, baca Muqaddimah cetakan ke-3 dan dengan sedikit tambahan keterangan oleh Almanhajsalaf, dan saran kami untuk lebih detailnya lagi silahkan antum beli buku yang berjudul -- Lau Kana Khairan Lasabaquunaa ilaihi, Pustaka Mu'awiyah bin Abi Sufyan oleh Ustad Abdul Hakim Amir Abdat]

_______________________
Footnote:

[1] Manhaj adalah sikap atau cara beragama untuk lebih lanjutnya silahkan di klik link ini: DEFINISI MANHAJ (المنهج)
[2] Yang dimaksud mereka adalah Ahlus Sunna, yakni tidak ada kata sepakat = berbeda sama sekali diantara mereka dengan Ahlus Sunnah dalam masalah ketuhanan dan kenabian. Maka ketika Ahlus Sunnah dengan seluruh ketegasan mengatakan, bahwa Rabb kami adalah Allah Jalla Dzikruhu dan dan Nabi kami adalah Muhammad shalallahu alaihi wa sallam dan khalifah sesudah beliau adalah Abu Bakar Ash Shiddiqul Akbar. Maka kemudian syi'ah raafidhah mengatakan juga dengan seluruh ketegasan yang ada pada mereka, bahwa mereka tidak beriman dengan Rabb itu dan tidak dengan Nabi itu yang khalifah sesudahnya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq Ash Shiddiqul Akbar !!
Apakah ketika mereka mengatakan seperti diatas yang merupakan asas dari keyakinan mereka dan dengan semua ketegasan kekufuran yang ada pada mereka kita masih belum sadar juga siapakah syi'ah itu sebenarnya ??
[3] Yang dimaksud mereka adalah Ahlus Sunnah
[4] Yang dimaksud kami adalah Syi'ah raafidhah
[5] Walhasil - Rabb: yakni Allah azza wa jalla - yang diimani oleh Ahlus Sunnah yang Muhammad shalallahu alaihi wa sallam sebagai Nabi-Nya dan khalifah sesudah beliau adalah Abu Bakar, sama sekali tidak diimani dan diyakini oleh Raafidhah Syi'ah.
[6] Dinukil dari kitab Al-Khuthuuthul 'Ariidhah oleh Syaikhul Imam Salafi yaitu Muhibbudin Al Khathib yang di-Ta'liq oleh Syaikh Muhammad Maalullah hal.20 cetakan ke-3.
[7] Idem (I/361 dst)

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates

 
hostgator coupons