Islam Mosque 4 Ibnu Abdil Ghany Al - Bughury: berdalil dengan HADITS belum tentu mengikuti SUNNAH

Senin, 12 Desember 2011

berdalil dengan HADITS belum tentu mengikuti SUNNAH


Al - Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat




لَو كان خيرا لَسبقو نا إليه






Seandainya perbuatan (amal) itu baik,
Tentulah para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya.
(Tafsir Ibnu Katsir surat An-Najm: 38-39)
 






3.Orang yang berdalil dengan HADITS belum tentu mengikuti SUNNAH !!!

 


Tetapi tidak sebaliknya, yakni tidak setiap orang yang berpegang dengan hadits dia mengikuti dan berpegang dengan Sunnah atau berada diatas Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam walaupun hadits - hadits yang dia jadikan dalil itu sah seperti riwayat Bukhari dan Muslim. Hal ini disebabkan karena di dalam memahami dan mengamalakan atau menerapkan serta mendak’wahkan hadits-hadits tersebut, mereka hanya berpegang dengan tafsiran mereka. Atau dengan kata lain Sunnah mereka, bukan dengan Sunnah Nabi yang mulia Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu perjalanan kehidupan beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam mengajarkan dan menda’wahkan Islam bersama para Shahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum. Bahkan, keyakinan dan perkataan serta perbuatan mereka (ahlul bid’ah) pada hakikatnya justru memerangi Sunnah Nabi yang mulia Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh dalam masalah ini banyak sekali bertebaran di tubuh firqoh - firqoh sesat dan para ahli bid’ah. Dan saya di muqoddimah ini telah membawakan satu contoh yang sangat menarik sekali tentang puasa pada hari senin sebagaimana akan datang syarah (penjelasan)-nya, Insya Allahu Ta’ala.

    Oleh karena itu, hampir setiap firqoh - firqoh sesat dan para ahli bid’ah berdalil dengan Al Kitab (Al - Qur’an) dan hadits tetapi menurut tafsiran dan syarahan dari mereka, bukan dari sunnah.






4. Lafazh “SUNNAH” dan “HADITS” telah disabdakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam

 


Kemudian, yang sangat penting kita ketahui, bahwa nama atau lafazh “hadits” dan “sunnah” telah di ulang-ulang oleh beliau di banyak sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Yang sekaligus beliau menjelaskan apa yang dimaksud oleh keduanya dari kekhususan dan keumuman, dari keluasan dan keterbatasan dan keterkaitannya satu dengan yang lainnya. Saya sebutkan diantaranya - tidak semuanya-tetang lafazh - lafazh hadits dari sunnah yang Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan.

Lafazh “Sunnah”:
“Barangsiapa yang hidup di antara  kamu sesudah (sepeninggalku), niscaya  dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaklah kamu berpegang dengan Sunnahku ….”

Hadits Shahih riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Daarimi, Hakim dan lain - lain dari jalan ‘Irbadh bin Saariyah sebagaimana telah saya luaskan takhrij-nya di kitab besar saya Riyaadhul Jannah (no.163) dalam bahasa Arab.

Dari Imam Malik (ia berkata), Sesungguhnya telah sampai kepadanya (hadits): Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang selama-lamanya kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang dengan keduanya (yaitu): Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.

Riwayat Imam Malik di kitabnya Al Muwaththa’ (3/93 Tanwirul Hawaalik Syarah Muwaththa’  oleh Suyuthi) dengan sanad yang dha’if karena hadits ini mu’dhal [1].
Tetapi  hadits ini shahih karena telah datang beberapa Syawaahid (penguatnya) dari hadits Ibnu Abbas, ‘Amr bin Ahwash dan Abu Hurairah dan semuanya di takhrij  di kitab besar saya Riyaadhul Jannah (no.31-33).


Dari Abu Mas’ud Al - Anshariy, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam: Yang akan mengimani satu kaum ialah mereka yang paling tahu tentang Kitabullah (Al-Qur’an), maka jika mereka sama di dalam qiraa’ah (bacaan, hafalan dan pengetahuannya tentang Al-Qur’an), maka (yang akan menjadi imam ialah) yang paling tahu diantara mereka tentang sunnah....



Hadits shahih riwayat Muslim (Juz 2 hal. 133 - 134) dan lain-lain telah di takhrij di kitab besar saya Takhrij Sunnan Abi Dawud (no. 582 - 583) dan Riyaadhul Jannah (no.67)

Lafazh “Sunnah” yang beliau sabdakan di tiga buah hadits di atas ialah dengan arti yang kedua yaitu “Jalan” atau “perjalanan” sesuai dengan arti bahasa. Yang dimaksud ialah perjalanan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di dalam mengajarkan dan mengamalkan serta menda’wahkan Islam secara menyeluruh dan terperinci dari alif sampai ya’ yang menjadi lawan bagi bid’ah. Oleh karena itu apabila seseorang itu berpegang dengan mengamalkan Sunnah, maka dia dikatakan:


“Si fulan berada di atas Sunnah”

tidak dikatakan: Si fulan berada di atas Hadits !!!

Adapun kalau dia berpegang dan mengamalkan bid’ah maka dia dikatakan:

“Si fulan berada di atas bid’ah”

Lafazh “Hadits”:

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada seorang yang mendengar kami sebuah hadits, lalu dia menghapalnya kemudian dia menyampaikannya kepada orang lain. Maka, kadang - kadang orang yang membawa ilmu itu [2]. menyampaikannya kepada orang yang lebih faham darinya. Dan kadang-kadang orang yang membawa ilmu itu bukan orang yang faham.”

Hadits Shahih mutawaatir riwayat Imam Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad Daarimi, Ibnu Hibban dan lain - lain dari hadits Zaid bin Tasbit dan Jama’ah para Shahabat sebagaimana telah saya luaskan takhrij-nya di Riyaadhul Jannah (no.35-38)

“Barang siapa yang menceritakan dariku satu hadits yang dia sangka (dalam lafazh yang lain: yang dia telah mengetahuinya) sesungguhnya hadits itu palsu, maka dia termasuk salah seorang dari para pendusta (dalam lafazh yang lain: Maka dia termasuk salah seorang dari dua [3] pendusta)

Hadits Shahih riwayat Muslim dan lain - lain. Bacalah kelengkapan takhrij hadits yang mulia ini di kitab saya Al-Masaa’il jilid 1 masalah ke-3 no.23

“Apabila aku menceritakan hadits kepada kamu, maka janganlah sekali -kali kamu memberikan tambahan atas (nama)-ku.”

Hadits shahih riwayat Ahmad dan lain-lain. bacalah kelengkapan takhrinya di Al-Maasa’il jilid 1 masalah ke-4 hadits no.27




____________________________
Footnote:

[1] Hadits Mu’dhal ialah hadits yang di dalam  sanadnya gugur dua orang rawi dengan syarat secara berturut - turut. Contohnya hadits diatas telah gugur dua rawi secara berturut - turut yaitu Shahabat dan Taabi’in karena Imam Malik seorang Taabi’ut Taabi’in. Tentang Ilmu-ilmu hadits telah saya luaskan di kitab Al-Masaa-il jilid 3 masalah ke 80 dan secara khusus di Kitab Mushthalahul Hadits.
[2] Ilmu yang dimaksud di sini adalah hadits, yakni adakalanya orang yang mengetahui hadits dan dia menghafalnya kemudian dia menyampaikannya kepada orang yang lebih faham darinya. Dan adakalanya juga dia tidak faham akan hadits tersebut. Hadits yang mulia di atas derajatnya mutawaatir menjelaskan kepada kita keutamaan yang sangat besar bagi ahli hadits. Mereka telah di do’akan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam agar Allah mencemerlangkan dan memberikan cahaya di wajah-wajah para ahli hadits. Oleh karena itu tidak seorang pun juga dari ahli hadits ini melainkan wajahnya bercahaya. Dan Hadits di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa hakikat ilmu itu adalah faham. Maka adakalanya orang mengetahui dan menghafal ayat dan hadits tetapi dia tidak faham.
[3] Yang dimaksud, pertama: si pembuat hadits palsu. yang kedua: yang membawakan dan menyebarkannya.


{Dinukil dari kitab [  لَو كان خيرا لَسبقو نا إليه ] LAU KANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI, karya Ustad Abdul Hakim Amir Abdat hal.41-48. Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan}



0 komentar:

Posting Komentar

Template by:
Free Blog Templates

 
hostgator coupons